Eps. Mereka punya testimoni
(Buat Pakpuh Dim)
Lelakiku,
Tanah basah kuburmu, kupastikan bukan dari
Airmataku, juga anak-anak.
Tanah basah kuburmu adalah guyuran
Dedoa kami, istri dan bocahmu
Yang tetap membangga pada akhir hayatmu.
Lelakiku,
Kami lepas engkau dengan sepenggal pemahaman:
Kamu adalah pahlawanku, juga bocah kita
Mereka yang berbelasungkawa kemari, kekuburmu
Datang jalan perlahan, tertunduk,
Menghormat padamu, pada jasadmu
-juga tentunya pada hidupmu yang lalu-
Lelakiku,
Aku akan sedikit ceriterakan kepadamu
Apa saja yang kau lewatkan yang tak terekam olehmu
Enam hari terakhir ini, sejak di jalan raya itu
Aku ceriterakan agar kamu tahu,
Mereka menyambangimu dengan doa dan sahaja
Doa berharap kebaikanmu -mungkin kesembuhanmu-
Tapi Tuhan lebih tahu mana yang baik buatmu
1.
Beliau tidak seharusnya terjatuh,
Beliau tidak salah,
Beliau tertabrak.....
2.
Kami menaruh hormat, juga harap
Njenengan semoga selalu kuat,
Kami datang buat sowan
Njenengan semoga segera dhangan*
Lelakiku,
Kamu telah banyak melalui jalan raya
Tapi kami adalah rumahmu,
Kamu telah jatuh di jalan raya
Tapi itu jalan ke rumah Tuhan-Mu.
Lelakiku,
Siang ini rumah kita,
Bertabur tetangga dan saudara,
Membawa doa, juga karangan bunga,
Bismillah mengantar kamu menuju Dia.
Lelakiku,
Beristirahatlah sekarang,
Aku tau kita semua telah berjuang,
Kamu telah melewati deritamu,
Aku akan terus menghidupi adamu.
Selasa, 15 November 2011
Kamis, 15 April 2010
Tentang Seorang Pria Yang Mati di Jalan Raya
Eps. Hujan Siang Jalan Bolong
Di hujan lebat siang hari
Lelakiku menerobos jalan raya
Tidak, dia tidak berjalan kaki
Lelakiku berkendara roda dua
Di jalan raya yang hujan lebat
Siang hari
Suamiku tetap berkendara nekat
Hati-hati
Lalui tikungan tanpa langgar marka
Putih lurus
Suamiku di hari hujan tetap kerja
Itu harus
Di jalan raya yang hujan siang
Lubang jalan kini tampak samara
Aspal tergerus air hujanjadi tergenang
Suamiku yang waspada, tetap terkapar
Di hari naas siang hari yang hujan
Lelakiku jatuh di sebuah jalan
Di siang hari kala dia kejar harapan
Lelakiku malah jadi korban
Di lubang jalan yang berair
Dia selesaikan nafas terakhir
Sedangkan aku, tak sempat buat khawatir
Jalan lubang salah siapa?
Hujan siang salah siapa?
Di hujan lebat siang hari
Lelakiku menerobos jalan raya
Tidak, dia tidak berjalan kaki
Lelakiku berkendara roda dua
Di jalan raya yang hujan lebat
Siang hari
Suamiku tetap berkendara nekat
Hati-hati
Lalui tikungan tanpa langgar marka
Putih lurus
Suamiku di hari hujan tetap kerja
Itu harus
Di jalan raya yang hujan siang
Lubang jalan kini tampak samara
Aspal tergerus air hujanjadi tergenang
Suamiku yang waspada, tetap terkapar
Di hari naas siang hari yang hujan
Lelakiku jatuh di sebuah jalan
Di siang hari kala dia kejar harapan
Lelakiku malah jadi korban
Di lubang jalan yang berair
Dia selesaikan nafas terakhir
Sedangkan aku, tak sempat buat khawatir
Jalan lubang salah siapa?
Hujan siang salah siapa?
Senin, 14 September 2009
Tentang Seorang Pria Yang Mati di Jalan Raya (Prolog)
Benar, dia telah mati
Bahkan belum juga sampai 40 harinya
Aku tak akan sanggup menceritakan
Bagaimana dia mati
Tetapi,
Semoga aku sanggup bercerita
Bagaimana dia (dulu) hidup
Hampir seluruh jalan hidupnya
Terhampar di atas jalan raya
Sejak kecil..
Dia yakin (sebagaimana aku yakin)
Jalan raya adalah tempat untuk mencari hidup
-- dan penghidupan
Dia dan banyak orang yang lain
Menafkahi keluarga
Dengan keringat yang menetes di aspal
Di keras dan hitamnya aspal
Jalan raya adalah tempatnya bekerja
Jalan raya adalah tempatnya berangkat
Jalan raya adalah tempatnya pulang
Jalan raya adalah tempatnya jatuh
Jalan raya adalah tempatnya bangkit
Jalan raya adalah tempatnya bersemangat
Jalan raya adalah tempatnya berikhtiar
Jalan raya adalah tempatnya mati
Namun,
Mengapa kemudian keyakinannya
Yang akut pada jalan raya
Membawanya pada kematian
Membawanya pada ketiadaan
Aku tak menyesali keyakinannya
Aku tak menangisi keras keringatnya
Aku menangisi sebab kematiannya yang
Terlalu mudah dan murah
Benar, dia telah mati
Tapi aku tetap menghidupinya
Dalam rinai do'a dan tegar air mata
Damailah kau
Lelakiku
Bahkan belum juga sampai 40 harinya
Aku tak akan sanggup menceritakan
Bagaimana dia mati
Tetapi,
Semoga aku sanggup bercerita
Bagaimana dia (dulu) hidup
Hampir seluruh jalan hidupnya
Terhampar di atas jalan raya
Sejak kecil..
Dia yakin (sebagaimana aku yakin)
Jalan raya adalah tempat untuk mencari hidup
-- dan penghidupan
Dia dan banyak orang yang lain
Menafkahi keluarga
Dengan keringat yang menetes di aspal
Di keras dan hitamnya aspal
Jalan raya adalah tempatnya bekerja
Jalan raya adalah tempatnya berangkat
Jalan raya adalah tempatnya pulang
Jalan raya adalah tempatnya jatuh
Jalan raya adalah tempatnya bangkit
Jalan raya adalah tempatnya bersemangat
Jalan raya adalah tempatnya berikhtiar
Jalan raya adalah tempatnya mati
Namun,
Mengapa kemudian keyakinannya
Yang akut pada jalan raya
Membawanya pada kematian
Membawanya pada ketiadaan
Aku tak menyesali keyakinannya
Aku tak menangisi keras keringatnya
Aku menangisi sebab kematiannya yang
Terlalu mudah dan murah
Benar, dia telah mati
Tapi aku tetap menghidupinya
Dalam rinai do'a dan tegar air mata
Damailah kau
Lelakiku
Minggu, 06 September 2009
Tentang Seorang Pria Yang Mati Di Jalan Raya #1
"Dia Ayah yang baik,
juga Suami yang ...
baik!!"
Menangis dia menangis
Memanggili nama di nisan
Menangis dia memanggil
Panggilan yang bukan karena rindu
Apalagi dengan amarah
Ada rasa tentunya, tapi entah ...
Meratap dia meratap
Mengenang sang pria
Yang dirasa mati sia-sia
Tertabrak (entah ditabrak)
Di atas aspal tanpa marka
Di kota yang tak mengenal sesiapa
Meratap dia meratap
Terawang senja tanpa atap
Lantas,
Segalanya semakin susah
Dua anak satu sekolah
Tak lemas lengan menyerah
Jualan kertas atau sampah
Di kaki kota yang angkuh
Janda harus menjadi petaruh
Antara nafas dan tenaga yang tinggal separuh
Tangis anak bikin luluh
Dia Ayah yang baik,
Tak memanjakan
Atau memenjarakan
Tak suka neko-neko
Atau sembrono
Dia Ayah yang baik,
Tak pernah sekalipun mengeluh
Ketika pagi subuh
Berangkat sekuat mengayuh
Tuju kota yang lusuh
Dia Suami yang, baik!!
Kadang-kadang
Kadang bikin tenang
Kadang bikin berang
Kadang bikin senang
Kadang bikin meradang
Dia Suami yang, baik!!
juga Suami yang ...
baik!!"
Menangis dia menangis
Memanggili nama di nisan
Menangis dia memanggil
Panggilan yang bukan karena rindu
Apalagi dengan amarah
Ada rasa tentunya, tapi entah ...
Meratap dia meratap
Mengenang sang pria
Yang dirasa mati sia-sia
Tertabrak (entah ditabrak)
Di atas aspal tanpa marka
Di kota yang tak mengenal sesiapa
Meratap dia meratap
Terawang senja tanpa atap
Lantas,
Segalanya semakin susah
Dua anak satu sekolah
Tak lemas lengan menyerah
Jualan kertas atau sampah
Di kaki kota yang angkuh
Janda harus menjadi petaruh
Antara nafas dan tenaga yang tinggal separuh
Tangis anak bikin luluh
Dia Ayah yang baik,
Tak memanjakan
Atau memenjarakan
Tak suka neko-neko
Atau sembrono
Dia Ayah yang baik,
Tak pernah sekalipun mengeluh
Ketika pagi subuh
Berangkat sekuat mengayuh
Tuju kota yang lusuh
Dia Suami yang, baik!!
Kadang-kadang
Kadang bikin tenang
Kadang bikin berang
Kadang bikin senang
Kadang bikin meradang
Dia Suami yang, baik!!
Jumat, 06 Maret 2009
Sajak Kangen #2
Jalan itu hanya mengantarku pada dua tujuan
Mati, ataukah sampai
Sekian ratus sudah
Nyawa terbang di atas aspal keras
Atribut aliran darah
Tuju horison luas
Perjalanan yang akut
Kepala yang kalut
Terbentur peluit nyinyir
Campur liur bau anyir
Pejalan telah lelah, suntuk
Terbakar kepala dan kaki sendiri
Tak temu tempat tetirah
Tak jemu umpat serapah
Kau...
Lelaki muram berambut hitam
Berjalan kaku tanpa ladam
Sesak napas langkah liar
Tak ada ratap tak ada harap
Tak ada atap tak juga santap
Kelak hidup makin tak nalar
Mati, ataukah sampai
Sekian ratus sudah
Nyawa terbang di atas aspal keras
Atribut aliran darah
Tuju horison luas
Perjalanan yang akut
Kepala yang kalut
Terbentur peluit nyinyir
Campur liur bau anyir
Pejalan telah lelah, suntuk
Terbakar kepala dan kaki sendiri
Tak temu tempat tetirah
Tak jemu umpat serapah
Kau...
Lelaki muram berambut hitam
Berjalan kaku tanpa ladam
Sesak napas langkah liar
Tak ada ratap tak ada harap
Tak ada atap tak juga santap
Kelak hidup makin tak nalar
Jalan yang Rindu
Harus kurunut kemana mantra ini
Jika jalan raya hanya lalu lalang sepi
Sesak asap knalpot dan makian klakson
Juga riuh becak angkot tanpa marka monoton
Harus kucari kemana jejak doa itu
Jika hanya sepintas aku lalu
Jalan yang tak pernah
Menjadi noktah, atawa sejarah
Harus kucari kemana
Harus kucari kemana
Jika jalan hanya ketakutan
Jika jalan hanya kesakitan
Jika jalan raya hanya lalu lalang sepi
Sesak asap knalpot dan makian klakson
Juga riuh becak angkot tanpa marka monoton
Harus kucari kemana jejak doa itu
Jika hanya sepintas aku lalu
Jalan yang tak pernah
Menjadi noktah, atawa sejarah
Harus kucari kemana
Harus kucari kemana
Jika jalan hanya ketakutan
Jika jalan hanya kesakitan
Kamis, 12 Februari 2009
Sajak Kangen #1
Kau kemana saja ketika jalanan banjir?
Kau kemana saja saat jalan raya macet?
Kau kemana saja tatkala jalanan makin berpolusi?
Kau kemana saja waktu jalan raya mulai bolong?
Kau kemana saja ketika tepian jalan makin banyak bendera parpol?
Kau kemana saja saat tepian jalan raya bukan trotoar nyaman?
Kau kemana saja tatkala tepian jalanan banyak pohon dan baliho tumbang?
Kau kemana saja waktu tepian jalan raya ditumpahi pengemis dan kawan-kawannya?
Kamu sedang dimana ketika angka kecelakaan meningkat?
Kamu sedang dimana saat angka polusi memuncak?
Kamu sedang dimana tatkala angka pengemis tak terlacak?
Kamu sedang dimana waktu angka pemakai sepeda motor tak terkendali?
Kamu sedang dimana ketika marka sulit jadi tanda?
Kamu sedang dimana saat traffic light bukan apa-apa?
Kamu sedang dimana tatkala lampu rem dan sein susah nyala?
Kamu sedang dimana waktu aspal-aspal bergelombang bagai bawang?
Kau kemana saja???
Kamu sedang dimana???
Kau kemana saja saat jalan raya macet?
Kau kemana saja tatkala jalanan makin berpolusi?
Kau kemana saja waktu jalan raya mulai bolong?
Kau kemana saja ketika tepian jalan makin banyak bendera parpol?
Kau kemana saja saat tepian jalan raya bukan trotoar nyaman?
Kau kemana saja tatkala tepian jalanan banyak pohon dan baliho tumbang?
Kau kemana saja waktu tepian jalan raya ditumpahi pengemis dan kawan-kawannya?
Kamu sedang dimana ketika angka kecelakaan meningkat?
Kamu sedang dimana saat angka polusi memuncak?
Kamu sedang dimana tatkala angka pengemis tak terlacak?
Kamu sedang dimana waktu angka pemakai sepeda motor tak terkendali?
Kamu sedang dimana ketika marka sulit jadi tanda?
Kamu sedang dimana saat traffic light bukan apa-apa?
Kamu sedang dimana tatkala lampu rem dan sein susah nyala?
Kamu sedang dimana waktu aspal-aspal bergelombang bagai bawang?
Kau kemana saja???
Kamu sedang dimana???
Selasa, 02 Desember 2008
Mengapa Jalan Begitu Ramai??
Jalanan begitu ramai pada sore hari
- dimulai pada sekitar jam 5 -
Mengapa orang-orang di jalan sama-sama
: "Pulang kerja!"
Mengapa orang pulang kerja sama-sama
: "Pengen cepet sampe rumah!"
Mengapa orang-orang pengen cepet sampai rumah sama-sama
: "Pengen langsung istirahat!"
Mengapa orang-orang pengen langsung istirahat sama-sama
: "Biar besok bisa fit bekerja lagi!"
Mengapa orang-orang bekerja lagi sama-sama
: "Biar gak telat saat check clock!"
Mengapa orang-orang gak mau telat check clock sama-sama
: "Soalnya takut di pehaka!"
Loh, gimana kalau kena pehaka semua
Biar jalanan tak ramai sama-sama
Ato
Gimana caranya supaya tidak check clock sama-sama
Biar gak berangkat lewat jalan sama-sama
Biar gak pengen cepet istirahat sama-sama
Biar gak pengen sampe rumah sama-sama
Biar gak pulang kerja sama-sama
Biar gak di jalan sama-sama
Biar gak sih?
- dimulai pada sekitar jam 5 -
Mengapa orang-orang di jalan sama-sama
: "Pulang kerja!"
Mengapa orang pulang kerja sama-sama
: "Pengen cepet sampe rumah!"
Mengapa orang-orang pengen cepet sampai rumah sama-sama
: "Pengen langsung istirahat!"
Mengapa orang-orang pengen langsung istirahat sama-sama
: "Biar besok bisa fit bekerja lagi!"
Mengapa orang-orang bekerja lagi sama-sama
: "Biar gak telat saat check clock!"
Mengapa orang-orang gak mau telat check clock sama-sama
: "Soalnya takut di pehaka!"
Loh, gimana kalau kena pehaka semua
Biar jalanan tak ramai sama-sama
Ato
Gimana caranya supaya tidak check clock sama-sama
Biar gak berangkat lewat jalan sama-sama
Biar gak pengen cepet istirahat sama-sama
Biar gak pengen sampe rumah sama-sama
Biar gak pulang kerja sama-sama
Biar gak di jalan sama-sama
Biar gak sih?
Selasa, 25 November 2008
Jalan Yang Basah
Jalan Raya ini
Selalu basah oleh
Keringat tukang sapu
Peluh dan liur sempritan polisi
Padahal bulan sedang kering
Matahari sedang garang
Dedaunan yang sedikit ranggas
Panas
Lantas jika musim kita
Jadi penuh hujan
Penuh awan
Jalan Raya ini
Kembali basah oleh
Sisa tetes hujan
- yang tak sekedar menetes -
Selokan tak cukup lebar
Kali tak cukup dalam
Aspal tak cukup meresap
Kemana air akan mengalir?
Kemana air akan mengalir??
Kemana air akan mengalir???
Mengapa jalanan tak pernah bersahabat
Entah kepada Air
Entah kepada Udara
Entah kepada Tanah
Entah kepada kita
Bulan-bulan inikah
Yang kelak selalu tercatat
Sebagai bulan penuh kubangan?
Sebagai bulan penuh jebakan?
Bulan seperti arisan
Hadir setiap penanggalan
Tahun lalu, tahun ini
Tahun akan datang?
Diantara reklame pajak pembangunan
Diantara senyum calon anggota dewan
Disela kibaran ribuan bendera parpol
-yang tertancap di pohon-
Dimana jalan yang nyaman
Bagi sebuah perjalanan
Jalan yang basah
Bulan yang basah
Hari yang basah
Metropolitan yang basah
Selalu basah oleh
Keringat tukang sapu
Peluh dan liur sempritan polisi
Padahal bulan sedang kering
Matahari sedang garang
Dedaunan yang sedikit ranggas
Panas
Lantas jika musim kita
Jadi penuh hujan
Penuh awan
Jalan Raya ini
Kembali basah oleh
Sisa tetes hujan
- yang tak sekedar menetes -
Selokan tak cukup lebar
Kali tak cukup dalam
Aspal tak cukup meresap
Kemana air akan mengalir?
Kemana air akan mengalir??
Kemana air akan mengalir???
Mengapa jalanan tak pernah bersahabat
Entah kepada Air
Entah kepada Udara
Entah kepada Tanah
Entah kepada kita
Bulan-bulan inikah
Yang kelak selalu tercatat
Sebagai bulan penuh kubangan?
Sebagai bulan penuh jebakan?
Bulan seperti arisan
Hadir setiap penanggalan
Tahun lalu, tahun ini
Tahun akan datang?
Diantara reklame pajak pembangunan
Diantara senyum calon anggota dewan
Disela kibaran ribuan bendera parpol
-yang tertancap di pohon-
Dimana jalan yang nyaman
Bagi sebuah perjalanan
Jalan yang basah
Bulan yang basah
Hari yang basah
Metropolitan yang basah
Selasa, 23 September 2008
Jalan Raya Kita
Aku di ambang batas nyawa
Meregang nyaris terputus
Menuju ruang binasa
Segala rasa yang bikin mampus
Nyawaku bias di jalan raya
Gigil akut ngilu luka
Menggumpal jadi dendam
Sekeras hati takut karam
Percakapan kita di ujung trotoar
Tak cerminkan galau ikrar
Bukan pula sebuah cerita tengkar
Semacam tali biar tak ingkar
Dilaju roda dua
Disenyap lafaz doa
Dikedip pesan-pesan singkat
Jalanku-jalanmu tak sekarat
Kamu
Kaku
Biru
Memburu
Aku
Malu
Bisu
Palsu
Meregang nyaris terputus
Menuju ruang binasa
Segala rasa yang bikin mampus
Nyawaku bias di jalan raya
Gigil akut ngilu luka
Menggumpal jadi dendam
Sekeras hati takut karam
Percakapan kita di ujung trotoar
Tak cerminkan galau ikrar
Bukan pula sebuah cerita tengkar
Semacam tali biar tak ingkar
Dilaju roda dua
Disenyap lafaz doa
Dikedip pesan-pesan singkat
Jalanku-jalanmu tak sekarat
Kamu
Kaku
Biru
Memburu
Aku
Malu
Bisu
Palsu
Selasa, 09 September 2008
Antara Aku, Istriku dan Jalan Raya
Kau masih menjaga kekhawatiranmu
Pada tingkat yang
Akut
Perihal perjalanan
Menjadikanku paranoid pada aspal
Juga phobia pada malam kelam
Jalanan legam hitam keras
Kau masih menjaga khawatirku
Lewat khawatirmu
Biar aku sigap lewati marka
Hingga kita jumpa di beranda
Timang jabang bayi
Gamang siram polusi
Kau tetap terjaga dengan khawatirmu
Jadi semacam sujud syahdu
Antara kau bertahajud
Aku merawat kalut
Kau di ruang tasbih
Aku di jalan pamrih
Kau terus bersetia pada doa
Berharap bisa kawal roda
Pada tingkat yang
Akut
Perihal perjalanan
Menjadikanku paranoid pada aspal
Juga phobia pada malam kelam
Jalanan legam hitam keras
Kau masih menjaga khawatirku
Lewat khawatirmu
Biar aku sigap lewati marka
Hingga kita jumpa di beranda
Timang jabang bayi
Gamang siram polusi
Kau tetap terjaga dengan khawatirmu
Jadi semacam sujud syahdu
Antara kau bertahajud
Aku merawat kalut
Kau di ruang tasbih
Aku di jalan pamrih
Kau terus bersetia pada doa
Berharap bisa kawal roda
Selasa, 26 Agustus 2008
Ingatan
Jalan Raya ini mengingatkanku tentang ini
Jalanan anu mengingatkanku pada si anu
Jalanan yang itu mengingatkanku pernah begitu
Jalan x aku pernah bertemu a
Jalan y aku pernah sampai b
Jalan z aku hampir saja c
Jalan 2 dekat gedung m
Jalan 1 tak terlalu jauh dari n
Jalan 0 aku 0
Jalanan anu mengingatkanku pada si anu
Jalanan yang itu mengingatkanku pernah begitu
Jalan x aku pernah bertemu a
Jalan y aku pernah sampai b
Jalan z aku hampir saja c
Jalan 2 dekat gedung m
Jalan 1 tak terlalu jauh dari n
Jalan 0 aku 0
Senin, 04 Agustus 2008
Monolog Jalanan
ini dia yang semakin membawa kontras siang-malam jalanan kota buaya yang seperti sekarang ketika jalanan semakin lengang saja ketika arloji sudah menuntun pada dinihari padahal jalanan selalu memberi harapan pada tujuan dan rumah sehingga bisa membawa setapak langkah pada harapan-harapan yang seringkali terbangkalai ketika siang bersama asap dan hembusan angin yang muncul dalam tanda gambar daun yang gugur bendera partai yang berkibar gagah juga pada rambut ikal bocah ingusan pedagang koran kriminal terbitan kota buaya dengan oplah buesar yang tergerai kaku
sementara aspal yang kaku hitam memanjang makin terasa turut membantu meyalurkan hawa dingin ke ngilu tulang para pejalan malam berjaket tebal berhelm teropong bersarung tangan berselendang sarung yang mengarah ke pasar kali dermaga atau terminal namun tetap tak menyembunyikan sirat gagah pada tiap tatap mata dan ulas senyum
jalanan malam hampir subuh biar biar tanpa marka tanpa zebra cross tanpa traffic-light hanya kadang ada beberapa bapak polisi yang budiman cari yang lalai
hahahahahahahahahahahaaaaaaaaaa
sementara aspal yang kaku hitam memanjang makin terasa turut membantu meyalurkan hawa dingin ke ngilu tulang para pejalan malam berjaket tebal berhelm teropong bersarung tangan berselendang sarung yang mengarah ke pasar kali dermaga atau terminal namun tetap tak menyembunyikan sirat gagah pada tiap tatap mata dan ulas senyum
jalanan malam hampir subuh biar biar tanpa marka tanpa zebra cross tanpa traffic-light hanya kadang ada beberapa bapak polisi yang budiman cari yang lalai
hahahahahahahahahahahaaaaaaaaaa
Kamis, 24 Juli 2008
Dialog di Jalan Raya
Cit cit ciiit ciiiiiiiittt....
Thiiiiiiin thiiiiiiiiiiiiinnnn....
Jancok, asu raimu....
Thiiiiiiin thiiiiiiiiiiiiinnnn....
Jancok, asu raimu....
Senin, 21 Juli 2008
Yang (kadang) Terabaikan di Jalan Raya
Lampu merah-kuning-ijo
Marka panjang-putusputus
Pe dicoret
eS dicoret
Penjual koran
Penjual mainan
Penjual minuman
Penyebrang jalan
Zebra cross
Polisi cepek
Polisi tidur
Patung polisi
Sesama pengendara
Sesama pelanggar
Sesama sopir
Batas maximal kecepatan
Bekas gesekan aspal-ban
Pecahan kaca kristal
Kamu
Aku
Mereka
Luka
Waktu
Nyawa
Marka panjang-putusputus
Pe dicoret
eS dicoret
Penjual koran
Penjual mainan
Penjual minuman
Penyebrang jalan
Zebra cross
Polisi cepek
Polisi tidur
Patung polisi
Sesama pengendara
Sesama pelanggar
Sesama sopir
Batas maximal kecepatan
Bekas gesekan aspal-ban
Pecahan kaca kristal
Kamu
Aku
Mereka
Luka
Waktu
Nyawa
Senin, 14 Juli 2008
Jalan Ini 2
Jalan ini sayang
Yang kan membawa kita pada
Riuh pekik makian
Sebab senyum kita selalu kalah
Dari papan reklame produk pasta gigi
Atau senyum bapak-ibu calon gubernur
Jalan inilah sayang
Yang mengibarkan lantas mengobarkan
Panji-panji luka penghuni kota
Beriak teriak menuntut hak
Akibat mulut busa presiden kita
Yang santun tapi congkak
Jalan ini juga sayang
Yang kan kita napak tilasi
Sebagai rute kesakitan
Juga,
Sebagai peta perlawanan
Yang kan membawa kita pada
Riuh pekik makian
Sebab senyum kita selalu kalah
Dari papan reklame produk pasta gigi
Atau senyum bapak-ibu calon gubernur
Jalan inilah sayang
Yang mengibarkan lantas mengobarkan
Panji-panji luka penghuni kota
Beriak teriak menuntut hak
Akibat mulut busa presiden kita
Yang santun tapi congkak
Jalan ini juga sayang
Yang kan kita napak tilasi
Sebagai rute kesakitan
Juga,
Sebagai peta perlawanan
Jalanan Yang Berubah Jadi Karpet Merah
Jalanan telah berubah menjadi
Karpet merah bagi para sosialita
Juga buat eksekutif muda
Juga para (calon) penguasa
Lalu lalang yang riuh
Menyambut sekian acuh
Jalanan telah menjadi
Karpet merah mulus
Dihias umbul-umbul
Selingan ribuan bendera
Gambar partai atau wajah senyum
yang
Siap merubah kepala jadi sekadar
Angka...
Jalan semakin menjadi
Karpet merah (ber)darah
Algojo penghancur bocah
Digendongan yang nampak susah
Berebut satu dua tiga langkah
Dengan asap dan mercy pongah
Tinggal pilih
Mana gajah mana pelepah
Jalanan hanyalah karpet merah
Kadang juga
Pengasingan bagi yang
Kalah...
Karpet merah bagi para sosialita
Juga buat eksekutif muda
Juga para (calon) penguasa
Lalu lalang yang riuh
Menyambut sekian acuh
Jalanan telah menjadi
Karpet merah mulus
Dihias umbul-umbul
Selingan ribuan bendera
Gambar partai atau wajah senyum
yang
Siap merubah kepala jadi sekadar
Angka...
Jalan semakin menjadi
Karpet merah (ber)darah
Algojo penghancur bocah
Digendongan yang nampak susah
Berebut satu dua tiga langkah
Dengan asap dan mercy pongah
Tinggal pilih
Mana gajah mana pelepah
Jalanan hanyalah karpet merah
Kadang juga
Pengasingan bagi yang
Kalah...
Senin, 07 Juli 2008
Suara Kerikil
Lalu sedikit demi sedikit, tergerus
Menjadi kerikil yang endap
Juga suara-suara,
Enyah kena angin
Tiup ke arah pantai
Lantas hilang, digulung ombak
Atau melaju ke kota
Sepi terlindas roda-gedung-sampah-kali
Hingga lenyap bareng
Asap daei knalpot-cerobong-pabrik
Suara-suara selaksa kerikil
Semakin mengendap, kecil-kecil
Suara-suara tak kan sampai
Ke telinga tujuan
Suara-suara
Mengecil
Jadi
Teriakan...
Makian...
Menjadi kerikil yang endap
Juga suara-suara,
Enyah kena angin
Tiup ke arah pantai
Lantas hilang, digulung ombak
Atau melaju ke kota
Sepi terlindas roda-gedung-sampah-kali
Hingga lenyap bareng
Asap daei knalpot-cerobong-pabrik
Suara-suara selaksa kerikil
Semakin mengendap, kecil-kecil
Suara-suara tak kan sampai
Ke telinga tujuan
Suara-suara
Mengecil
Jadi
Teriakan...
Makian...
Kamis, 22 Mei 2008
Rabu, 07 Mei 2008
IKRAR
buat Tristan: putraku
Aku mungkin tak akan memberikanmu
Sebilah belati atau sehunus keris
Biar kau berani dan berbekal,
Aku juga tak akan berikanmu
Selusin pena atau setumpuk kertas
Setimba tinta atau segudang benang
Aku tak akan sanggup memberimu apa-apa
Sebab tak ada harapan pada barang-barang
Aku hanya akan memberimu
Senyum.
Aku mungkin tak akan memberikanmu
Sebilah belati atau sehunus keris
Biar kau berani dan berbekal,
Aku juga tak akan berikanmu
Selusin pena atau setumpuk kertas
Setimba tinta atau segudang benang
Aku tak akan sanggup memberimu apa-apa
Sebab tak ada harapan pada barang-barang
Aku hanya akan memberimu
Senyum.
Langganan:
Postingan (Atom)