Jalan itu hanya mengantarku pada dua tujuan
Mati, ataukah sampai
Sekian ratus sudah
Nyawa terbang di atas aspal keras
Atribut aliran darah
Tuju horison luas
Perjalanan yang akut
Kepala yang kalut
Terbentur peluit nyinyir
Campur liur bau anyir
Pejalan telah lelah, suntuk
Terbakar kepala dan kaki sendiri
Tak temu tempat tetirah
Tak jemu umpat serapah
Kau...
Lelaki muram berambut hitam
Berjalan kaku tanpa ladam
Sesak napas langkah liar
Tak ada ratap tak ada harap
Tak ada atap tak juga santap
Kelak hidup makin tak nalar
Jumat, 06 Maret 2009
Jalan yang Rindu
Harus kurunut kemana mantra ini
Jika jalan raya hanya lalu lalang sepi
Sesak asap knalpot dan makian klakson
Juga riuh becak angkot tanpa marka monoton
Harus kucari kemana jejak doa itu
Jika hanya sepintas aku lalu
Jalan yang tak pernah
Menjadi noktah, atawa sejarah
Harus kucari kemana
Harus kucari kemana
Jika jalan hanya ketakutan
Jika jalan hanya kesakitan
Jika jalan raya hanya lalu lalang sepi
Sesak asap knalpot dan makian klakson
Juga riuh becak angkot tanpa marka monoton
Harus kucari kemana jejak doa itu
Jika hanya sepintas aku lalu
Jalan yang tak pernah
Menjadi noktah, atawa sejarah
Harus kucari kemana
Harus kucari kemana
Jika jalan hanya ketakutan
Jika jalan hanya kesakitan
Kamis, 12 Februari 2009
Sajak Kangen #1
Kau kemana saja ketika jalanan banjir?
Kau kemana saja saat jalan raya macet?
Kau kemana saja tatkala jalanan makin berpolusi?
Kau kemana saja waktu jalan raya mulai bolong?
Kau kemana saja ketika tepian jalan makin banyak bendera parpol?
Kau kemana saja saat tepian jalan raya bukan trotoar nyaman?
Kau kemana saja tatkala tepian jalanan banyak pohon dan baliho tumbang?
Kau kemana saja waktu tepian jalan raya ditumpahi pengemis dan kawan-kawannya?
Kamu sedang dimana ketika angka kecelakaan meningkat?
Kamu sedang dimana saat angka polusi memuncak?
Kamu sedang dimana tatkala angka pengemis tak terlacak?
Kamu sedang dimana waktu angka pemakai sepeda motor tak terkendali?
Kamu sedang dimana ketika marka sulit jadi tanda?
Kamu sedang dimana saat traffic light bukan apa-apa?
Kamu sedang dimana tatkala lampu rem dan sein susah nyala?
Kamu sedang dimana waktu aspal-aspal bergelombang bagai bawang?
Kau kemana saja???
Kamu sedang dimana???
Kau kemana saja saat jalan raya macet?
Kau kemana saja tatkala jalanan makin berpolusi?
Kau kemana saja waktu jalan raya mulai bolong?
Kau kemana saja ketika tepian jalan makin banyak bendera parpol?
Kau kemana saja saat tepian jalan raya bukan trotoar nyaman?
Kau kemana saja tatkala tepian jalanan banyak pohon dan baliho tumbang?
Kau kemana saja waktu tepian jalan raya ditumpahi pengemis dan kawan-kawannya?
Kamu sedang dimana ketika angka kecelakaan meningkat?
Kamu sedang dimana saat angka polusi memuncak?
Kamu sedang dimana tatkala angka pengemis tak terlacak?
Kamu sedang dimana waktu angka pemakai sepeda motor tak terkendali?
Kamu sedang dimana ketika marka sulit jadi tanda?
Kamu sedang dimana saat traffic light bukan apa-apa?
Kamu sedang dimana tatkala lampu rem dan sein susah nyala?
Kamu sedang dimana waktu aspal-aspal bergelombang bagai bawang?
Kau kemana saja???
Kamu sedang dimana???
Selasa, 02 Desember 2008
Mengapa Jalan Begitu Ramai??
Jalanan begitu ramai pada sore hari
- dimulai pada sekitar jam 5 -
Mengapa orang-orang di jalan sama-sama
: "Pulang kerja!"
Mengapa orang pulang kerja sama-sama
: "Pengen cepet sampe rumah!"
Mengapa orang-orang pengen cepet sampai rumah sama-sama
: "Pengen langsung istirahat!"
Mengapa orang-orang pengen langsung istirahat sama-sama
: "Biar besok bisa fit bekerja lagi!"
Mengapa orang-orang bekerja lagi sama-sama
: "Biar gak telat saat check clock!"
Mengapa orang-orang gak mau telat check clock sama-sama
: "Soalnya takut di pehaka!"
Loh, gimana kalau kena pehaka semua
Biar jalanan tak ramai sama-sama
Ato
Gimana caranya supaya tidak check clock sama-sama
Biar gak berangkat lewat jalan sama-sama
Biar gak pengen cepet istirahat sama-sama
Biar gak pengen sampe rumah sama-sama
Biar gak pulang kerja sama-sama
Biar gak di jalan sama-sama
Biar gak sih?
- dimulai pada sekitar jam 5 -
Mengapa orang-orang di jalan sama-sama
: "Pulang kerja!"
Mengapa orang pulang kerja sama-sama
: "Pengen cepet sampe rumah!"
Mengapa orang-orang pengen cepet sampai rumah sama-sama
: "Pengen langsung istirahat!"
Mengapa orang-orang pengen langsung istirahat sama-sama
: "Biar besok bisa fit bekerja lagi!"
Mengapa orang-orang bekerja lagi sama-sama
: "Biar gak telat saat check clock!"
Mengapa orang-orang gak mau telat check clock sama-sama
: "Soalnya takut di pehaka!"
Loh, gimana kalau kena pehaka semua
Biar jalanan tak ramai sama-sama
Ato
Gimana caranya supaya tidak check clock sama-sama
Biar gak berangkat lewat jalan sama-sama
Biar gak pengen cepet istirahat sama-sama
Biar gak pengen sampe rumah sama-sama
Biar gak pulang kerja sama-sama
Biar gak di jalan sama-sama
Biar gak sih?
Selasa, 25 November 2008
Jalan Yang Basah
Jalan Raya ini
Selalu basah oleh
Keringat tukang sapu
Peluh dan liur sempritan polisi
Padahal bulan sedang kering
Matahari sedang garang
Dedaunan yang sedikit ranggas
Panas
Lantas jika musim kita
Jadi penuh hujan
Penuh awan
Jalan Raya ini
Kembali basah oleh
Sisa tetes hujan
- yang tak sekedar menetes -
Selokan tak cukup lebar
Kali tak cukup dalam
Aspal tak cukup meresap
Kemana air akan mengalir?
Kemana air akan mengalir??
Kemana air akan mengalir???
Mengapa jalanan tak pernah bersahabat
Entah kepada Air
Entah kepada Udara
Entah kepada Tanah
Entah kepada kita
Bulan-bulan inikah
Yang kelak selalu tercatat
Sebagai bulan penuh kubangan?
Sebagai bulan penuh jebakan?
Bulan seperti arisan
Hadir setiap penanggalan
Tahun lalu, tahun ini
Tahun akan datang?
Diantara reklame pajak pembangunan
Diantara senyum calon anggota dewan
Disela kibaran ribuan bendera parpol
-yang tertancap di pohon-
Dimana jalan yang nyaman
Bagi sebuah perjalanan
Jalan yang basah
Bulan yang basah
Hari yang basah
Metropolitan yang basah
Selalu basah oleh
Keringat tukang sapu
Peluh dan liur sempritan polisi
Padahal bulan sedang kering
Matahari sedang garang
Dedaunan yang sedikit ranggas
Panas
Lantas jika musim kita
Jadi penuh hujan
Penuh awan
Jalan Raya ini
Kembali basah oleh
Sisa tetes hujan
- yang tak sekedar menetes -
Selokan tak cukup lebar
Kali tak cukup dalam
Aspal tak cukup meresap
Kemana air akan mengalir?
Kemana air akan mengalir??
Kemana air akan mengalir???
Mengapa jalanan tak pernah bersahabat
Entah kepada Air
Entah kepada Udara
Entah kepada Tanah
Entah kepada kita
Bulan-bulan inikah
Yang kelak selalu tercatat
Sebagai bulan penuh kubangan?
Sebagai bulan penuh jebakan?
Bulan seperti arisan
Hadir setiap penanggalan
Tahun lalu, tahun ini
Tahun akan datang?
Diantara reklame pajak pembangunan
Diantara senyum calon anggota dewan
Disela kibaran ribuan bendera parpol
-yang tertancap di pohon-
Dimana jalan yang nyaman
Bagi sebuah perjalanan
Jalan yang basah
Bulan yang basah
Hari yang basah
Metropolitan yang basah
Selasa, 23 September 2008
Jalan Raya Kita
Aku di ambang batas nyawa
Meregang nyaris terputus
Menuju ruang binasa
Segala rasa yang bikin mampus
Nyawaku bias di jalan raya
Gigil akut ngilu luka
Menggumpal jadi dendam
Sekeras hati takut karam
Percakapan kita di ujung trotoar
Tak cerminkan galau ikrar
Bukan pula sebuah cerita tengkar
Semacam tali biar tak ingkar
Dilaju roda dua
Disenyap lafaz doa
Dikedip pesan-pesan singkat
Jalanku-jalanmu tak sekarat
Kamu
Kaku
Biru
Memburu
Aku
Malu
Bisu
Palsu
Meregang nyaris terputus
Menuju ruang binasa
Segala rasa yang bikin mampus
Nyawaku bias di jalan raya
Gigil akut ngilu luka
Menggumpal jadi dendam
Sekeras hati takut karam
Percakapan kita di ujung trotoar
Tak cerminkan galau ikrar
Bukan pula sebuah cerita tengkar
Semacam tali biar tak ingkar
Dilaju roda dua
Disenyap lafaz doa
Dikedip pesan-pesan singkat
Jalanku-jalanmu tak sekarat
Kamu
Kaku
Biru
Memburu
Aku
Malu
Bisu
Palsu
Selasa, 09 September 2008
Antara Aku, Istriku dan Jalan Raya
Kau masih menjaga kekhawatiranmu
Pada tingkat yang
Akut
Perihal perjalanan
Menjadikanku paranoid pada aspal
Juga phobia pada malam kelam
Jalanan legam hitam keras
Kau masih menjaga khawatirku
Lewat khawatirmu
Biar aku sigap lewati marka
Hingga kita jumpa di beranda
Timang jabang bayi
Gamang siram polusi
Kau tetap terjaga dengan khawatirmu
Jadi semacam sujud syahdu
Antara kau bertahajud
Aku merawat kalut
Kau di ruang tasbih
Aku di jalan pamrih
Kau terus bersetia pada doa
Berharap bisa kawal roda
Pada tingkat yang
Akut
Perihal perjalanan
Menjadikanku paranoid pada aspal
Juga phobia pada malam kelam
Jalanan legam hitam keras
Kau masih menjaga khawatirku
Lewat khawatirmu
Biar aku sigap lewati marka
Hingga kita jumpa di beranda
Timang jabang bayi
Gamang siram polusi
Kau tetap terjaga dengan khawatirmu
Jadi semacam sujud syahdu
Antara kau bertahajud
Aku merawat kalut
Kau di ruang tasbih
Aku di jalan pamrih
Kau terus bersetia pada doa
Berharap bisa kawal roda
Langganan:
Postingan (Atom)